Makna syahadat Muhammadan Rasulullah
Muhammadan Rasulullah berarti “Muhammad adalah
utusan Allah.” Dengan mengucapkan kalimat ini, seorang muslim mengakui bahwa
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang
terakhir dan penutup para nabi. Konsekuensi dari syahadat ini adalah mengikuti
ajaran dan sunah Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan, terutama dalam
peribadatan kepada Allah.
Sebagaimana umumnya, diketahui dari banyak dalil-dalil
sahih bahwa syarat diterimanya ibadah ada dua, yaitu: ikhlas dan ittiba’.
Terkait dengan ittiba’, Allah Ta’ala mewajibkan
kita untuk menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai
sosok teladan yang diikuti.
Allah Ta’ala berfirman,
مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ
أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia
telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka
Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa:
80)
Ittiba’ berarti mengikuti secara totalitas. Seorang
muslim yang mengucapkan Muhammadan Rasulullah harus mengikuti
Rasulullah dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah, berakhlak,
dan bermuamalah. Rasulullah adalah teladan yang sempurna bagi umat Islam,
sehingga mengikuti beliau berarti meneladani perilaku, perkataan, dan sikap
beliau dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim harus menjadikan sunah
Rasulullah sebagai pedoman utama setelah Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى
رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ
وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Terkhusus dalam perkara ibadah, telah sangat jelas dalam
nas-nas yang sahih bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dalam perkara ibadah adalah prasyarat mutlak setelah
ikhlas. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا
هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami
ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari
no. 20 dan Muslim no. 1718)
Konsekuensi syahadatain
Mengucapkan syahadatain bukan sekadar pernyataan lisan,
tetapi juga komitmen yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Seorang
muslim harus menaati segala perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala
larangan-Nya. Ketaatan ini mencakup seluruh aspek kehidupan, dari cara
beribadah hingga bagaimana berinteraksi dengan sesama. Seorang muslim yang
taat akan selalu berusaha mengikuti syariat Islam dalam setiap langkahnya.
Menjaga keikhlasan adalah salah satu konsekuensi penting
dari syahadatain. Ibadah seorang muslim harus dilakukan dengan ikhlas hanya
untuk Allah, tanpa mencampurkannya dengan niat lain. Keikhlasan ini menjamin
bahwa setiap amal ibadah yang dilakukan, diterima oleh Allah dan mendapatkan
pahala yang sesuai. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu introspeksi
diri dan memastikan bahwa niatnya murni dalam setiap perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ
رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS.
Al Kahfi: 110)
Mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam merupakan konsekuensi logis dari mengucapkan syahadat Muhammadan
Rasulullah. Seorang muslim harus berusaha memahami dan mengamalkan
sunah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Sunah adalah panduan praktis
dari Rasulullah yang mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari cara
beribadah hingga adab dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengikuti
sunah, seorang muslim akan mendapatkan petunjuk yang jelas dalam menjalani
hidupnya.
Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ
عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ
الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah,
mendengar dan taat, meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang
hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak.
Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah
khulafaur rasyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan
amal). Gigitlah sunah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah
setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.
Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Ia berkata bahwa hadis ini hasan
sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih.)
Syahadatain adalah pondasi utama dalam agama Islam.
Mengucapkannya berarti menerima segala konsekuensi dan tanggung jawab yang
menyertainya. Seorang muslim harus senantiasa memperbarui komitmen ini dengan
menjaga keimanan, ketaatan, dan ketulusan dalam beribadah kepada Allah serta
mengikuti sunah Rasulullah. Dengan memahami dan mengamalkan syahadatain,
seorang muslim akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
[Sumber : https://muslim.or.id/95198-konsekuensi-syahadatain.html ]
--------------------------------
"Pena Penulis"
Tiada kata untuk berhenti belajar, Benarkah cara berislam kita ? pertanyaan ini sudah semestinya kita temukan jawabannya, sebab jika kita hanya beribadah dengan berdasarkan ilmu yang seadanya dari lahir dan dari yang kita terima di sekolah, maka ini tidaklah cukup. temukan jawabannya!
Komentar
Posting Komentar