Langsung ke konten utama

Apa Makna Syahadat Muhammad Rasulullah ?

Makna syahadat Muhammadan Rasulullah

Muhammadan Rasulullah berarti “Muhammad adalah utusan Allah.” Dengan mengucapkan kalimat ini, seorang muslim mengakui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang terakhir dan penutup para nabi. Konsekuensi dari syahadat ini adalah mengikuti ajaran dan sunah Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan, terutama dalam peribadatan kepada Allah.

Sebagaimana umumnya, diketahui dari banyak dalil-dalil sahih bahwa syarat diterimanya ibadah ada dua, yaitu: ikhlas dan ittiba’. Terkait dengan ittiba’, Allah Ta’ala mewajibkan kita untuk menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sosok teladan yang diikuti.

Allah Ta’ala berfirman,

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 80)

Ittiba’ berarti mengikuti secara totalitas. Seorang muslim yang mengucapkan Muhammadan Rasulullah harus mengikuti Rasulullah dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah, berakhlak, dan bermuamalah. Rasulullah adalah teladan yang sempurna bagi umat Islam, sehingga mengikuti beliau berarti meneladani perilaku, perkataan, dan sikap beliau dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim harus menjadikan sunah Rasulullah sebagai pedoman utama setelah Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Terkhusus dalam perkara ibadah, telah sangat jelas dalam nas-nas yang sahih bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkara ibadah adalah prasyarat mutlak setelah ikhlas. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Konsekuensi syahadatain

Mengucapkan syahadatain bukan sekadar pernyataan lisan, tetapi juga komitmen yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Seorang muslim harus menaati segala perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Ketaatan ini mencakup seluruh aspek kehidupan, dari cara beribadah hingga bagaimana berinteraksi dengan sesama. Seorang muslim yang taat akan selalu berusaha mengikuti syariat Islam dalam setiap langkahnya.

Menjaga keikhlasan adalah salah satu konsekuensi penting dari syahadatain. Ibadah seorang muslim harus dilakukan dengan ikhlas hanya untuk Allah, tanpa mencampurkannya dengan niat lain. Keikhlasan ini menjamin bahwa setiap amal ibadah yang dilakukan, diterima oleh Allah dan mendapatkan pahala yang sesuai. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu introspeksi diri dan memastikan bahwa niatnya murni dalam setiap perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan konsekuensi logis dari mengucapkan syahadat Muhammadan Rasulullah. Seorang muslim harus berusaha memahami dan mengamalkan sunah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Sunah adalah panduan praktis dari Rasulullah yang mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari cara beribadah hingga adab dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengikuti sunah, seorang muslim akan mendapatkan petunjuk yang jelas dalam menjalani hidupnya.

Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Ia berkata bahwa hadis ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih.)

Syahadatain adalah pondasi utama dalam agama Islam. Mengucapkannya berarti menerima segala konsekuensi dan tanggung jawab yang menyertainya. Seorang muslim harus senantiasa memperbarui komitmen ini dengan menjaga keimanan, ketaatan, dan ketulusan dalam beribadah kepada Allah serta mengikuti sunah Rasulullah. Dengan memahami dan mengamalkan syahadatain, seorang muslim akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

[Sumber : https://muslim.or.id/95198-konsekuensi-syahadatain.html ] 

--------------------------------

"Pena Penulis"

Tiada kata untuk berhenti belajar, Benarkah cara berislam kita ? pertanyaan ini sudah semestinya kita temukan jawabannya, sebab jika kita hanya beribadah dengan berdasarkan ilmu yang seadanya dari lahir dan dari yang kita terima di sekolah, maka ini tidaklah cukup. temukan jawabannya!

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU

Benarkah wahabi sesat ?

  Al Lajnah Ad Daimah, Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa di Saudi Arabia ditanya, “ Siapakah wahabiyah? ” Jawaban para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, Wahabiyah adalah kata yang dimunculkan oleh para penentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah . Padahal Syaikh rahimahullah berdakwah untuk memurnikan tauhid dari berbagai macam kesyirikan. Beliau ingin menghapus berbagai macam cara beragama di luar yang dituntunkan oleh  Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maksud dari pemunculan nama ini sebenarnya adalah untuk menjauhkan dan menghalangi manusia dari dakwah beliau. Namun usaha semacam ini tidaklah membahayakan dakwah beliau. Bahkan dakwah beliau semakin tersebar di berbagai penjuru dunia dan semakin dicintai. Di antara mereka yang diberi taufik oleh Allah untuk mengenal dakwah beliau, mereka melakukan penelitian lebih lanjut tentang hakikat dakwah beliau, mereka pun membelanya, karena beliau selalu bersandar pada dalil...

Untuk apa Allah menurunkan Al Qur'an ?

Allah menurunkan Al-Qur'an agar kita mengamalkannya. Allah ta'ala berfirman yang  artinya, “Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian." (QS. Al-A'raf: 3). Dan Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Bacalah Al-Qur'an, beramallah dengannya, dan janganlah kalian mencari makan dengannya. " (Sahih riwayat Ahmad ). sumber :  Ambillah aqidahmu dari al Qur'an dan as Sunnah yang shahih (Ebook) , karya Muhammad Jamil Zainu, ( https://drive.google.com/file/d/1J7RTnLtiTy0KzmNdY3x01lHyGVutmJ6A/view?usp=sharing  )