MAULID NABI MENURUT 4 MAZHAB
PERAYAAN MAULID NABI
DALAM TINJAUAN [1]
Kahuilah
wahai saudaraku -semoga Alloh memberi pemahaman kepadamu- bahwa perayaan maulid
Nabi tidaklah dikenal di zaman Nabi r, para sahabat, para tabiin dan tabi’ut
tabiin. Dan tidak dikenal oleh Imam-imam madzhab: Abu Hanifah, Malik, Ahmad,
dan Syafi’i sekalipun karena memang perayaan ini adalah perkara baru (baca:
bid’ah).
Adapun
orang yang pertama kali mengadakannya adalah Bani Ubaid Al-Qaddakh yang menamai
diri mereka dengan “Fathimiyyun”. Mereka memasuki kota Mesir tahun 362
H. Dari sinilah kemudian mulai tumbuh berkembang perayaan maulid secara umum
dan maulid Nabi secara khusus.
Imam Abu
Hafsh Tajuddin Al-Fakihani berkata, “Amma ba’du, banyak muncul pertanyaan dari
saudara-saudara kami tentang perkumpulan yang biasa diamalkan sebagian manusia
pada bulan Rabi’ul Awal, yang mereka namakan dengan maulid. Adakah dalilnya?
Ataukah itu perkara bid’ah dalam agama? Maka saya katakan, “Saya tidak
mengetahui dalil tentang maulid ini baik dari Al-Qur’an maupun Hadits. Tidak
pula dinukil dari seorang pun dari kalangan ulama umat yang merupakan panutan
dalam agama, yaitu orang-orang yang berpegang teguh terhadap ajaran para
pendahulu. Bahkan maulid ini merupakan perkara bid’ah yang dibuat-buat oleh
para pengangguran dan dorongan nafsu syahwat yang dipertuhankan oleh
orang-orang yang buncit perut (suka makan).”(Al-Maurid fi Amalil Maulid, hlm.
8-9)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Demikian pula apa yang diada-adakan oleh sebagian manusia tentang perayaan hari kelahiran Nabi r, padahal ulama telah berselisih tentang (tanggal) kelahirannya. Semua ini tidak pernah dikerjakan oleh generasi salaf (Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) … dan seandainya hal itu baik, tentu para salaf lebih berhak mengerjakannya daripada kita. Karena mereka jauh lebih cinta kepada Nabi r, dan mereka lebih bersemangat dalam melaksanakan kebaikan. Sesungguhnya cinta Rasul adalah dengan mengikuti beliau, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara zhahir dan batin, menyebarkan ajarannya dan berjihad untuk itu semua, baik dengan hati, tangan, ataupun lisan. Karena inilah jalan para generasi utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.” (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim 2/123-124).
Alasan Sebagian Orang dalam
Membela Maulid [2]
[Pertama] “Maulid
adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam”
Cukup kami jawab, kalau memang
maulid adalah bentuk syukur, mengapa sejak generasi sahabat hingga imam mazhab
yang empat tidak ada yang melakukan perayaan ini[?] Apakah keimanan mereka
lebih rendah dibanding orang-orang sekarang yang merayakannya[?] Apakah orang
ini menyangka lebih mendapat petunjuk daripada generasi awal tersebut[?]
Semoga kita dapat merenungkan
perkataan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut.
لَوْ
كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ
“Seandainya amalan tersebut
baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”
Inilah perkataan para ulama
pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para
sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para
sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat
11)
Juga kami katakan, “Mengapa
ucapan syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam hanya sekali dalam setahun, hanya pada 12 Rabi’ul Awwal? Mengagungkan,
mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersyukur bukan hanya sekali
setahun, namun setiap saat dengan mentaati dan selalu ittiba’ pada
beliau.”
(Baca selengkapnya pada sumber
Referensi)
Sumber Referensi (Silahkan
klik nomor berikut) :
[1] https://abiubaidah.com/perayaan-maulid-nabi-dalam-tinjauan
[2] https://rumaysho.com/871-alasan-sebagian-orang-dalam-membela-maulid.html
Komentar
Posting Komentar